Orang yang tidak tahu apa-apa, tidak mencintai apapun

Monday, April 13, 2009

Foto Bambang Sabirin

Sunday, April 12, 2009

Pendidikan Hati

Dikutip dari sebagian isi Bab III buku “Cinta Bagai Anggur”, dengan seijin penerbit.

Selama engkau tidak menceraikan dunia dan segala sifat keduniawiannya, kau tidak akan pernah mengenal Tuhan. Pada persoalan ini, kau harus memahaminya dengan sangat berhati-hati! Nabi Isa a.s. adalah Nabi yang menjadi contoh pelepasan diri dari dunia material secara sempurna. Di sisi lain, kau juga mengenal seorang nabi besar lain, Raja Sulaiman a.s. Beliau adalah manusia yang paling kaya dari yang terkaya, juga yang paling berkuasa.
Intinya adalah menceraikan dunia dengan qalb. Kemiskinan materi bukanlah inti persoalannya.

SEORANG sufi besar, Ibrahim bin Adham rah. [1] sebelumnya adalah sultan kerajaan Balkh. Dia tinggalkan kedudukannya sebagai raja di dunia ini demi merajai kehidupannya yang berikutnya.
Teladan dari beliau mengilustrasikan bahwa selama ini kita mungkin mengira bahwa kitalah pihak yang mencari dan mendapatkan, namun sebenarnya tidak demikian. Sebenarnya Allah-lah yang mencari kita, dan kita semata-mata hanya menjawab panggilan-Nya saja.

Pada tingkatan kita sekarang, seringkali kita tidak segera memutuskan untuk memenuhi undangan Allah. Kita menunda. Kita mempertimbangkan dan merenungkannya.
Dahulu Ibrahim bin Adham pun memiliki banyak pertimbangan. Ia sangat ingin menjadi seorang pejalan sehingga bisa mencurahkan seluruh hidupnya untuk mengenal diri dan mencari Tuhan, namun demikian banyak yang harus ia korbankan. Ia harus meninggalkan seluruh kerajaannya, juga meninggalkan statusnya sebagai seorang sultan. Padahal, undangan telah datang—Allah telah memanggilnya. Tapi ia belum siap untuk menjawab, “Inilah hamba, ya Allah.” Hanya itu yang perlu kau katakan, “Inilah hamba; hadir, menunggu kehendak-Mu.”
Mengingat Allah[2] adalah salah satu hal yang paling mendasar dari banyak ibadah penting di jalan sufi. Mengingat Allah itu sebenarnya —penjelasan yang sesederhana mungkin— adalah sama dengan menjawab, “Inilah hamba. Hadir, menunggu kehendak-Mu.” Dan Ibrahim bin Adham, ketika itu, belum mampu mengingat Allah. Ia belum mampu “menjawab”. Namun, Allah telah mengundang Ibrahim bin Adham untuk datang kepada-Nya.

Suatu malam, sultan tengah tertidur di pembaringan bulu miliknya, dengan sprei sutra dan selimut-selimut yang paling indah. Mendadak bermunculan perasaan dalam hatinya, “Aku harus pergi. Aku harus meninggalkan ini semua. Harus!” Lalu tiba-tiba saja ia mendengar berbagai suara aneh yang berasal dari atap istananya. Ia buka jendela dan berteriak, “Siapa itu? Sedang apa kau di atas sana?” Terdengar sebuah suara menjawab, “Kami sedang membajak tanah.” Ibrahim bin Adham pun berkata, “Jawaban macam apa itu? Bagaimana bisa kau membajak tanah di atap istana?” Dan suara itu menjawab, “Ah, kalau kau pikir dengan berbaring di atas lembaran-lembaran sprei sutra engkau bisa menemukan Tuhan dari tempat tidurmu, kenapa membajak tanah di atap istana tidak bisa?”

Kau harus mengupayakan usaha-usaha keras tertentu, dan menanggung beban-beban penderitaan tertentu. Allah lebih dekat kepadamu daripada engkau kepada dirimu sendiri. Allah berfirman, “Terdapat tujuh puluh ribu hijab di antara engkau dengan Aku, tetapi tidak ada hijab antara Aku terhadapmu.” Allah lebih dekat kepadamu daripada kedekatanmu pada dirimu sendiri.
Kalau kau tidak berpikir tentang Tuhan seperti ini, kau boleh mencari di seluruh alam semesta dan tidak akan menemukan Tuhan, seperti seorang kosmonot Rusia yang pernah mencari Tuhan di luar pesawat antariksanya dan mengatakan, “Ah, saya tidak melihat Tuhan di atas sana.”
Seharusnya dia mencari Tuhan dalam dirinya sendiri.

Sesuatu yang begitu dekat denganmu akan sulit terlihat, karena ia terlalu dekat. Demikian pula, sesuatu yang begitu jauh, sulit untuk bisa terlihat. Suatu ketika, sekelompok ikan kecil mendatangi seekor ikan besar dan bertanya, “Kami dengar ada lautan di suatu tempat, entah di mana. Tolong, maukah Anda menunjukkan lautan pada kami?” Ikan besar pun menjawab, “Kalau demikian, mau tak mau kalian harus keluar dulu dari lautan.”

Jadi, apakah engkau harus keluar dari kebenaran untuk melihat kebenaran? Semoga Allah Al-Haqq, suatu saat berkehendak untuk menunjukkan kebenaran-Nya kepadamu.
Tapi persoalannya, tidak ada sesuatu pun selain Al-Haqq. Jadi engkau tak mungkin bisa keluar dari Al-Haqq agar mampu melihat Al-Haqq. Seperti ikan-ikan tadi yang tidak mungkin mampu keluar dari air agar bisa melihat air.
Allah berfirman, “Aku lebih dekat kepadamu daripada urat lehermu sendiri.”[3] Sedekat itulah Allah kepadamu—di dalam dirimu dan sepenuhnya meliputi dirimu. Segala yang ada di sekelilingmu, sebenarnya adalah Allah. Engkau seperti ikan di lautan. Kau tidak bisa melihat Allah, kecuali jika Dia berkehendak agar diri-Nya tampak kepadamu. Dan Allah akan kau kenali dengan cara yang berbeda dari pengenalan yang orang lain alami. Jadi, engkau tidak akan pernah bisa menyampaikan seluruh pengenalan yang kau alami kepada orang lain.
Allah Yang Maha Tinggi, yang tidak termuat oleh seluruh lelangit dan bumi, ternyata menemukan tempat di qalb hamba-hamba yang mu’min.[4] Pengalaman tentang Dia, datang dari dalam qalb-mu sendiri. Allah akan tampak padamu sesuai dengan potensimu, sesuai dengan kapasitasmu. Berbeda-beda pada setiap kita masing-masing.
Di kali yang lain, Ibrahim bin Adham pergi ke luar istana untuk bersantap di alam terbuka. Ketika makanan dihidangkan di hadapannya, tiba-tiba seekor burung gagak menukik turun dan menyambar rotinya. Sultan pun segera memerintahkan para pengawalnya untuk mengikuti gagak itu. Mereka melompat ke punggung kudanya masing-masing dan segera mengikutinya, hingga gagak itu turun ke sebuah tempat di mana ada seorang laki-laki terikat pada sebatang pohon. Gagak itu sedang menaruh roti ke mulut lelaki tersebut.

Para pengawal melaporkan kejadian itu kepada Sultan, yang kemudian mendatangi lelaki itu dan bertanya, “Siapa kau? Apa yang telah terjadi padamu?” Lelaki itu pun menjawab, “Aku adalah seorang dari kafilah dagang, dan para perampok merampas semua yang kumiliki. Aku sudah terikat didi sini selama berhari-hari. Setiap hari burung hitam ini membawakan makanan dan menaruhnya ke mulutku. Ketika aku haus, ada awan kecil yang terbentuk dan menurunkan hujannya tepat ke mulutku.”
Seperti Nabi Isa a.s. telah mengatakan, perhatikanlah burung-burung. Mereka berangkat di pagi hari dalam keadaan lapar, dan Tuhan menyediakan makanan bagi merek.a. Kemudian, pada malam hari mereka kembali ke sarangnya dalam keadaan kenyang. Mereka tidak perlu memenuhi sendiri kebutuhan-kebutuhan mereka. Di sini, Allah menunjukkan kepada Ibrahim bin Adham bahwa ia benar-benar tidak perlu untuk membiarkan dirinya terikat kepada kesultanannya, kepada dunia ini. Semua kebutuhannya, Allah-lah yang akan menyediakannya.

Nabi Isa a.s. melepaskan dunianya. Ia sepenuhnya menceraikan dunia ini. Sehingga, seluruh kepemilikannya hanya terdiri dari dua benda: sisirnya yang biasa ia pakai untuk menyisiri janggutnya, dan sebuah cangkir yang digunakannya untuk minum.
Pada suatu hari, Nabi Isa a.s. melihat seorang lelaki tua yang sedang menyisiri janggutnya dengan jemari tangan, sehingga beliau pun membuang sisirnya. Kemudian ia melihat seorang lelaki lain sedang meminum air dari tangkupan kedua tangannya, dan beliau pun membuang cangkirnya.

Selama engkau tidak menceraikan dunia dan segala sifat keduniawiannya, kau tidak akan pernah bertemu dengan Tuhan. Pada persoalan ini, kau harus memahaminya dengan sangat berhati-hati! Nabi Isa a.s. adalah Nabi yang menjadi contoh pelepasan diri dari dunia material secara sempurna. Di sisi lain, kau juga mengenal seorang nabi besar lain, Raja Sulaiman a.s.. Beliau adalah manusia yang paling kaya dari yang terkaya, juga yang paling berkuasa; baik di dunia ini maupun di alam-alam lainnya. Nabi Sulaiman adalah raja bagi kalangan manusia, jin dan hewan; dan bagi segala sesuatu yang mengandung unsur udara, tanah, air maupun api. Dunia menjadi penghalang antara dirimu dan Tuhan selama hatimu terikat pada apa-apa yang kau miliki. Kalau engkau memiliki segala yang kau inginkan tapi tanpa itu semua pun kau sama sekali tidak bermasalah, itu tidak apa-apa. Di sisi lain, kalau kau tidak memiliki apa pun selain sebuah kepala ikan asin, tapi hatimu masih terikat kepada kepala ikan asin itu, maka engkau terikat kepada dunia ini. Intinya adalah menceraikan dunia dengan qalb.[5] Kemiskinan materi bukanlah inti persoalannya.


Ibnu ‘Arabi rah.[6] yang di kalangan para akademisi sering digelari as-Syaikh al-Akbar[7] semasa perjalanannya di Tunisia pernah bertemu dengan seorang nelayan pengabdi Tuhan yang memilih untuk menjalani cara hidup yang sangat sederhana. Nelayan itu tinggal di sebuah gubuk yang terbuat dari lumpur kering. Setiap hari ia melaut dengan perahunya untuk menangkap ikan dan seluruh hasil tangkapannya hari itu akan ia sedekahkan kepada orang-orang miskin. Ia sendiri hanya mengambil sepotong kepala ikan untuk direbus, sebagai makan malamnya yang sangat sederhana.
Nelayan itu kemudian belajar kepada Ibnu ‘Arabi, dan selang berlalunya waktu ia sendiri pun ternyata menjadi seorang syaikh. Kemudian, pada suatu ketika, salah seorang murid dari nelayan itu harus mengadakan perjalanan ke Spanyol. Nelayan itu lalu meminta muridnya menemui Ibnu ‘Arabi untuk memintakan nasihat bagi dirinya. Sang nelayan, yang merasa bahwa telah bertahun-tahun ini perkembangan jiwanya tidak lagi mengalami kemajuan, membutuhkan nasihat dari Ibnu ‘Arabi.

Ketika si murid sampai di kota tempat tinggal Ibnu ‘Arabi, segera ia menanyakan tempat di mana ia bisa menemui beliau. Orang-orang di kota menunjuk ke puncak bukit, ke sebuah puri yang tampak seperti istana, dan mengatakan bahwa di sanalah tempat tinggal Ibnu ‘Arabi. Dia sangat terkejut melihat betapa tampak sangat duniawinya kehidupan Ibnu ‘Arabi, apalagi jika dibandingkan dengan guru tercintanya sendiri, yang hanya seorang nelayan sederhana.
Dengan enggan ia melangkahkan kakinya ke arah puri itu. Sepanjang perjalanan ia melalui ladang-ladang yang terawat baik, jalan-jalan yang indah, dan kumpulan-kumpulan domba, kambing, dan sapi. Setiap kali ia bertanya, ia selalu memperoleh jawaban bahwa pemilik semua ladang, lahan, dan ternak itu adalah Ibnu ‘Arabi. Ia bertanya-tanya sendiri, bagaimana mungkin seorang yang sangat materialis seperti itu bisa menjadi seorang sufi terkemuka.

Sesampainya di puri, apa yang paling ditakutinya terbukti. Di sana terlihat kekayaan dan kemewahan yang belum pernah ia bayangkan, bahkan dalam mimpi-mimpinya. Dindingnya terbuat dari marmer dengan ornamen yang diukir dan disusun. Lantainya ditutupi karpet-karpet yang tak ternilai. Para pelayannya mengenakan pakaian dari sutra, yang bahkan lebih indah dari pakaian orang-orang yang paling kaya di kampungnya. Ketika menanyakan Ibnu ‘Arabi, dikatakan kepadanya bahwa majikan mereka sedang mengunjungi khalifah[8] dan akan segera kembali. Setelah menunggu sebentar, tak lama kemudian terlihatlah olehnya sebuah arak-arakan yang mendatangi puri tersebut. Awalnya tampak pasukan kehormatan dari tentara khalifah, lengkap dengan perisai dan senjata yang berkilauan, duduk di punggung kuda-kuda Arab yang indah. Kemudian terlihatlah Ibnu ‘Arabi, dalam jubah sutra yang luar biasa, mengenakan sorban yang layak untuk menjadi sorban seorang sultan.

Ketika si darwis muda telah diantar menghadap kepada Ibnu ‘Arabi, para pelayan lelaki yang tampan dan gadis-gadis pelayan yang cantik segera membawakan mereka kopi dan kue-kue. Si darwis muda pun menyampaikan pesan gurunya. Ia begitu terkejut dan geram ketika Ibnu ‘Arabi mengatakan kepadanya, “Sampaikan kepada gurumu, masalah dirinya adalah bahwa ia masih terlalu terikat kepada keduniawian.”
Sekembalinya ia ke kampungnya, gurunya ingin sekali mendengar hasil perjalanannya, apakah ia telah bertemu dengan al-Syaikh al-Akbar. Dengan enggan ia menjawab bahwa ia memang telah berhasil menemuinya. “Nah, bagaimana, apakah beliau menitipkan nasihat untukku?”
Sang darwis mencoba untuk menghindar dari keharusan mengulangi teguran Ibnu ‘Arabi kepada gurunya. Nasihat itu dirasakannya sungguh tidak pantas, mengingat betapa berlimpahnya kemewahan Ibnu ‘Arabi dan begitu asketiknya kehidupan gurunya. Di samping itu, ia khawatir akan membuat gurunya tersinggung dengan mengucapkan kembali nasihat yang semacam itu.
Sang nelayan terus memaksanya bercerita, hingga akhirnya si darwis muda menyampaikan juga apa yang dikatakan Ibnu ‘Arabi kepadanya. Meledaklah tangis sang nelayan mendengar teguran Ibnu ‘Arabi kepadanya. Muridnya, darwis muda itu, terheran-heran dan bertanya, bagaimana mungkin Ibnu ‘Arabi, yang hidup dalam kemewahan seperti itu, berani menasihati gurunya bahwa ia masih terlalu terikat kepada keduniawian. “Ia benar!” kata si nelayan, di sela-sela tangisnya. “Ia sungguh tidak peduli sama sekali dengan semua yang ada padanya. Sementara aku, ketika setiap malam menyantap kepala ikan, aku masih saja berharap seandainya saja kepala ikan itu adalah seekor ikan yang utuh.” []